FASHAL DAN WASHAL DALAM DIWAN IMAM ALI BIN ABI THALIB

Muhammad Ridwan Fauzi, S.Hum., M.Pd.

E-mail : mridwanfauzi17@gmail.com Email :stai.su@yahoo.com

ABSTRAK

Muhammad Ridwan Fauzi: FASHAL DAN WASHAL DALAM DIWAN IMAM ALI BIN ABI THALIB (Studi Analisis Balaghah Qafiyah Alif Dan Ba’)

“Balaghah adalah mendatangkan makna yang agung dan jelas, dengan ungkapan yang benar dan fasih, memberi bekas yang berkesan di lubuk hati dan sesuai dengan situasi, kondisi, dan orang-orang yang diajak bicara” ( Al-Jarim, 2011:6). Maka pada Diwan syi’ir yang merupakan karya sastra terdapat kalimat-kalimat yang menggunakan ilmu Balaghah terutama Fashal dan Washal.

Adapun latar belakang Penelitian in dilakukan dengan tujuan Untuk mengetahui apa saja tempat-tempat Fashal dan Washal dan sebab-sebab dalam Diwan Imam Ali bin Abi Thalib Qafiyah Alif dan Ba. Sedangkan metodenya adalah Meode deskriptif analitik, yakni dengan mendeskripsikan fakta-fakta yang berupa kalimat-kalimat yang mengandung fashal dan washal pada tempat wajibnya dan sebab terjadinya.

Adapun hasil dari penelitian ini adalah:

   Tempat-tempat Wajib Fashal adalah:

  1. Kamaalul Ittishal (Kesinambungan yang sempurna). Terdapat 31 yaitu 12 pada Qafiyah Alif dan 19 Pada Qafiyah Ba’.
  2. Syibhu Kamaalul Ittishal (Kemiripan kesinambungan yang sempurna). Terdapat 4 yaitu 2 pada Qafiyah Alif dan 2 Pada Qafiyah Ba’.
  3. Kamaalul Inqitha (keterputusan yang sempurna). Terdapat 20 yaitu 11 pada Qafiyah Alif dan 9 Pada Qafiyah Ba’.

   Tempat Wajib Washal adalah:

  1. Menyertakan dua kalimat dalam hukum I’rab. Terdapat 23 yaitu 11 pada Qafiyah Alif dan 12 Pada Qafiyah Ba’.
  2. Sesuai dalam Kalam Khabar. Terdapat 30 yaitu 16 pada Qafiyah Alif dan 14 Pada Qafiyah Ba’.
  3. Sesuai dalam Kalam Insya. Terdapat 8 yaitu 4 pada Qafiyah Alif dan 4Pada Qafiyah Ba’.

   Sebab Fashal adalah:

  1. Kalimat kedua menjadi Bayan (penjelas) bagi kalimat pertama.
  2. Kalimat kedua menjadi jawaban bagi kalimat pertama.
  3. Kalimat pertama dan kedua pada jumlah terdapat perbedaan yang sangat jauh dari bentuk khabar dan insya.

   Sebab Washal adalah:

  1. Kalimat pertama memiliki kedudukan dalam I’rab, yang sama dengan kalimat yang kedua
  2. Kedua kalimat sama-sama dalam kalam Kabar yang berkesesuaian maknanya. Lafadz Kalimat pertama memiliki kedudukan yang sama dalam khabar dengan kalimat yang kedua.
  3. Kedua kalimat sama-sama dalam kalam Insya yang berkesesuaian maknanya. Lafadz Kalimat pertama memiliki kedudukan yang sama dalam insya dengan kalimat yang kedua.

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah

 “Balaghah mendatangkan makna yang agung dan jelas, dengan ungkapan yang benar dan fasih, memberi bekas yang berkesan di lubuk hati dan sesuai dengan situasi, kondisi, dan orang-orang yang diajak bicara”. ( Al-Jarim, 2011:6).  

Ilmu balaghah terbagi kepada tiga bagian, yaitu Ilmu Ma’ani, Ilmu Bayan, dan Ilmu Badi’. Disebutkan dalam Kitab At-Tashil (Manaf, 6) “Ilmu Ma’ani adalah  Ilmu yang mengetahui bagaimana tata cara menyesuaikan perkataan untuk sesuai dengan situasi dan kondisi yang dimaksud dari perkataanya”.

Ilmu Ma’ani merupakan bagian penting sebelum ilmu Bayan dan ilmu Badi’ dalam kajian ilmu Balahgah. Ilmu ini menuntun kepada kita untuk dapat berbicara sesuai dengan tuntutan situasi dan kondisi (muqtadha al-hal). Seperti situasi dan kondisi lawan bicara: ada orang yang polos (khaly ad-dzinni), ada orang yang meragukan (mutraddid), dan ada juga orang yang mengingkarii (munkir) apa yang kita sampaikan. Kondisi seperti ini akan menuntut gaya pengungkapan sendiri.

Ilmu ma’ani membahas tentang al-washal dan al-fashal. Menurut Abdurrahim Manaf (Manaf, 19) “Al-Washal adalah meng‘atafkan kalimat kepada kalimat lainnya dan Al-fashal meninggalkan ‘atafnya. Dan orang yang berbicara tentang kajian ini Ulama Ma’ani sesungguhnya Al-Washal dengan wau khusus dan settiap washal dan Fashal mempunyai tempat-tempatnya masing-masing”.  

“Al-Fashal secara bahasa kebalikan dari Al-Washal yaitu ‘memisahkan’ atau ‘menahan’. Dan yangdimaksud dengan Al-Fashal disini adalah tidak menghubungkan dua kalimat melalui perantara wawu atahaf karena ada alasan dan ,maksud tertentu (Wahyudin, 2007: 125). “Al-Washal secara bahasa berarti ‘menyambungkan atau menggabungkan’ yang dimaksud washal disini adalah menyambungkan dua buah kalimat dengan perantara wau ‘athaf karena alasan-alasan tertentu” (Wahyudin, 2007: 125).

Menurut Ahmad Asy-Syayib, (Kamil, 2009: 10) bahwa Syi’ir atau puisi Arab adalah ucapan atau tulisan yang memiliki wazan atau bahr ( mengikuti prosodi atau ritme gaya lama) dan qafiyahh (rima akhir atau kesesuaian akhir baris/sastra) serta unsur ekspresi rasa dan imajinasi yang harus lebih dominan dibanding prosa.

Dalam Syair Diwan Imam Ali bin Abi Thalib yang ditulis oleh Abdurrahman Al- Musthawi, terdapat ekspresi rasa dan imajinasi serta memiliki wazan atau bahr dan qafiyah. Syiir Diwan Imam Ali bin Abi Thalib termasuk kedalam bentuk puisi tradisional dalam literatur Arab serng isebut puisi lazim/multazim (biasa/konvensional atau terikat aturan lama). Dari sekian bait-bait Diwan Imam Ali bin Abi Thalib terdapat Bahr basit, thawil, kamil rajaz dan lainnya yang merupakan bahr favorit para penyair Arab, karena mudah ditemukan dalam berbagai buku sastra, keagamaan, dan tata bahasa. Puisi yang enggunakan bahr rajaz, misalnya bisa ditemukan dalam buku semisal buku tata bahasa (nahwu) alfiya karya Ibnu Malik yang sangat terkenal di pesantren tradisional di Indonesia.

Dalam Ilmu Ma’ani terdapat pembahasan tentang Fashal dan Washal yang akan menjadi kajian dalam analisis ini, sedangkan objek kajiannya adalah Diwan Imam Ali bin Abi Thalib Qafiyah Alif dan Ba’. Syi’ir Diwan Imam Ali bin Abi Thalib ini terdapat banyak Qafiyah dengan bait-baitnya (28 Qafiyah). Diwan ini mengandung keimanan, hukum, kisah, dan lainnya.

Dalam melatarbelakangi mengapa analisis ini menunjukan kepada balaghah sebagai bidang ilmu yang dibahas dan Syiir sebagai objeknya, tidak lain bahwa dalam Syiir kehebatan dari lafadz bahasa menunjukan ke dalaman makna dan keindahan bahasa yang menjadikan sinergis antara Syiir dengan Balaghah. Maka dengan ini balaghah dijadikan pisau analisis untuk mengkaji lebih dalam makna-makna dan keindahan lafadz yang terkandung dalam Syiir tersebut.

Adapun alasan akademik yang mendorong dilakukannya penelitian ini dengan pendekatan ilmu ma’ani dalam Antologi Imam Ali Bin Abi Thalib qafiyah Alif dan Ba’ adalah sebagai berikut:

Pertama, Diwan ini terlahir dari tangan kreatif seorang amirul mukminin yaitu Ali bin Abi Thalib.RA. Singa Allah, yang dilahirkan di rumah Allah “Ka’bah” dan meninggal dibunuh di rumah Allah “Mesjid Kufah”.

Kedua, isi syairnya menunjukan kelihaian penyair ini dalam menggambarkan suatu kejadian atau peristiwa dengan kalimat-kalimat yang terstruktur dalam bahr ataupun balaghah dengan tuntutan situasi dan kondisi.

Ketiga, isi dari Qàfiyah alif dan ba dalam diwan tersebut banyak sekali menggunakan kalimat yang terstruktur dari Fashal ataupun Washal.

Ali bin Abi Thalib (Abdul Manaf) bin Abdul Muthalib, Hasyim, Abu Hasan, beliau adalah Amirul Mukminin dan termasuk Khulafa Al Rasyidun setelah Khalifah Usman bin Affan, satu dari sepuluh orang yang langsung masuk Islam, seorang anak yang pertama masuk Islam setelah Khadijah RA.

  • Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas perlu dibatasi dalam pembahasannya sebagai berikut :

  1. Apa tempat-tempat Fashal dan Washal dalam Diwan Imam Ali bin Abi Thalib Qafiyah Alif dan Ba’?
  2. Apa Sebab-sebab terjadinya Fashal dan Washal dalam Diwan Imam Ali bin Abi Thalib Qafiyah Alif dan Ba’?
  • Tujuan Penelitian

Ada dua tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini, yaitu:

  1. Untuk mengetahui tempat-tempat Fashal dan Washal dalam Diwan Imam Ali bin Abi Thalib Qafiyah Alif dan Ba’!
  2. Untuk mengetahui sebab-sebab Fashal dan Washal dalam Diwan Imam Ali bin Abi Thalib Qafiyah Alif dan Ba’!

LANDASAN TEORITIS

  1. Konsep Sastra
  2. Pengertian Sastra

Banyaknya makna leksikal Adab dipahami, karena di dalam sejarah kebahasaan arab makna adab mengalami perkembangan dari masa kemasa yang lain. Sastra sudah terdapat pada zaman jahiliyah (pra-Islam) atau sejak sekitar150 tahun sebelum Nabi Muhammad lahir (571 M), dengan makna berbeda atau leksikal. (Kamil, 2009: 4)

Kemudian pada masa awal  islam (priode nabi dan khulafa al-Rasyidun tahun 610-661 M), adab berarti pendidikan (pengajaran) bahasa dan Akhlak. Pada massa umayah (661-750 M) kata adab berarti pengajaran puisi, orasi, dan sejarah arab. Pada massa Abbasiyah awal (750-945 M), makna kata adab mengalami perluasan makna lebih lanjut. Selain artinya pengajaran puisi, orasi, sejarah arab, kata adab juga berarti pengajaran bicara dan nasihat, sebanding dengan pengertian humaniora saat ini. (Kamil, 2009: 4).

  • Pengertian Balaghah Dan Pembagiannya
  • Pengertian Balaghah

Menurut Ali Al-Jarim ( Al-Jarim, 2011:6). “Balaghah adalah mendatangkan makna yang agung dan jelas, dengan ungkapan yang benar dan fasih, memberi bekas yang berkesan di lubuk hati dan sesuai dengan situasi, kondisi, dan orang-orang yang diajak bicara”.

Dan unsur-unsur Balaghah adalah kalimat, makna, dan susunan kalimat yang memberikan kekuatan, pengaruh dalam jiwa, dan keindahan. Juga kejelian dalam memilih kata-kata dan uslub sesuai dengan tempat bicaranya, waktunya, temannya, kondisi para pendengarnya, dan emosional yang dapat mempengaruhi dan menguasai mereka. Banyak kata yang bagus dipakai di satu tempat, namun tidak tepat dan tidak disenangi di tempat lain.

  • Pembagian Balaghah

Imu Balghah terbagi pada tiga bagian: Ilmu Ma’ani, Ilmu Bayan, Ilmu Badi’.

Pertama: Ilmu Ma’ani adalah ilmu yang mengetahui didalamnya bagaimana mencocokan perkataan yang sesuai dengan situasi dan kondisi sehingga sesuai dengan tujuan yang dimaksud (Manaf: 9).

Kedua: Ilmu yang membahas tentang tasybih , Majaz, dan Kinayah (Manaf: 26).

Ketiga: Ilmu yang untuk mengetahui didalamnya bagaimana pembentukan tahsin Kalam yang sesuai dengan keadaan (Manaf: 42).

PEMBAHASAN

  1. Ringkasan Tentang Diwan Imam Ali Bin Abi Thalib

Ali bin Abi Thalib (Abdul Manaf) bin Abdul Muthalib, Hasyim, Abu Hasan, beliau adalah Amirul Mukminin dan termasuk ari empat Khulafa Al Rasyidun, satu dari sepuluh orang yang langsung masuk Surga, dan putra paman Nabi SAW dan seorang pemberani dan bandel, dan pembesar dalam khutbah dan Ulama. Seorang anak yang pertama masuk islam setelah Khadijah Ra. (Al-Musthawi : 8)

Menurut Khairuddin Az-zarkali: Bahwa apa yang diriwayatkan Sahabat-sahabat  dari  sejarah dan syi’ir.  Dan apa-apa yang di kumpulkan dan didengarkan (Diwan Ali bin Abi Thalib) atau seluruh yang terselip didalamnya.

Semoga perkataan Zarkali ini dalam syiir/puisinya diberkati Allah, dia adalah yang paling dekat dengan kebenaran, karena sebagian besar syiirnya/puisinya ra diberkati Allah dan dikaitkan dengannya, atau palsu seperti dikatakan kritiknya terhadap puisi Arab.

Dan disalami cetakan dari setiap cetakan Diwan – selain ini – menemukan kata-kata: dan dikaitkan dengannya, atau yang dikaitkan dengannya dan sebagainya.

Selain itu, banyak puisi yang dikaitkan dengannya ditemukan di Diwan Imam Syafi’i, di ridhai Allah dan lainnya.

Dan sesungguhnya anda menemukan dalam syiirnya/puisinya dikaitkan dengan banyak variasi, dari peningkatan jumlah beberapa bait, dan perbedaan individu/diri atau gaya bahasa adalah bukti bahwa penulis syii’r bukanlah satu orang (Al-Musthawi 10-11).

Abdurrahman Al-Musthawi menulis dalam Diwan ini:

Saya memperhatikan teks atas tiga salinan yang tercetak, dan menyarankan riwayat yang disebutkan dalam sumber-sumber lama,  yang didukung oleh konteks dan didukung oleh hukum bahasa.

Saya abaikan, tentang puisi/syii’r, perbedaan riwayat, dan saya kemukakan dalam catatan kaki, meskipun novel teks riwayat didalamnya bermanfaat dalam bahasa yang disebutkannya.

Puisi di tulis dengan tulisan yang sangat sempurna, dan menempatkan nama-nama lautan syii’r.

Menempatkan judul-judul dam qhasidah-qhasidahnya, dan rajaz dan potongan-potongan syii’rnya.

Disampaikan untuk diwan dengan  menerjemahkan karya singa Allah pemenang yaitu Ali bin Abi Thalib, saya berdo’a kepada Allah karya Abdul Rahman Almustawi menjadi murni dalam segi kemuliaan, dan manfaat, dan panggilan kesayangan karya Abu al-Hasan dan Hussein dan Aatarth suci, ia (Allah) maha mendengarkan dan maha menjawab. (Al-Musthawi: 12).

  • Analisis Fashal Dan Washal Dalam Qashidah Diwan Imam Ali Bin Abi Thalib  Penjelasan Tempat-Tempat Wajib Dan Sebabnya
  • Qofiyah Alif Dari Bentuk Fashal
  • النَّاسُ مِنْ جِحَةُ التِّمْثَالِ أَكْفَاءُ * أَبُوْهُمُ آدَمُ والأمّ حوّاء

Pada bait syair diatas terdapat dua kalimat, kalimat pertama diawali dari kata (النَّاسُ) dan diakhiri kata (أَكْفَاءُ)  lalu kalimat kedua diawali dari kata (أَبُوْهُمُ) dan diakhiri kata (حوّاء). Antara kalimat pertama dan kedua diwajibkan untuk dipisahkan karena jumlah tersebut sudah menjadi kalimat yang sempurna tanpa harus disambungkan dengan huruf wau dalam ilmu balaghah yang seperti ini disebut Fashal.

Hal itu di landasi dari materi ilmu ma’ani tentang fashal, apabila kalimat kedua menjadi bayan (penjelas) bagi kalimat pertama maka kalimat ini mempunyai kesinambungan yang sempurna dalam fashalnya. Jadi, lafadz kalimat kedua (أَبُوْهُمُ آدَمُ والأمّ حوّاء)  pada bait diatas menjelaskan lafadz kalimat pertama (النَّاسُ مِنْ جِحَةُ التِّمْثَالِ ), maka kalimat pertama dan kedua mempunyai kesinambungan yang sempurna dalam bentuk bayan (penjelas), dalam kondisi ini tempat wajib fashalnya adalah Kamaalul Ittishal (Kesinambungan yang sempurna).

  • فَإِنْ يَكُنْ لَـــهُمْ مِنْ أَصْلِهِمْ ثَرَفٌ * يُفَاخِرُوْنَ بِهِ, فَالطِّيْنُ, وَالمـــَاءُ

Pada bait syair diatas terdapat dua kalimat, kalimat pertama diawali dari kata (فَإِنْ يَكُنْ) dan diakhiri kata (ثَرَفٌ)  lalu kalimat kedua diawali dari kata (يُفَاخِرُوْنَ بِهِ) dan diakhiri kata (وَالمـــَاءُ). Antara kalimat pertama dan kedua diwajibkan untuk dipisahkan karena jumlah tersebut sudah menjadi kalimat yang sempurna tanpa harus disambungkan dengan huruf wau dalam ilmu balaghah yang seperti ini disebut Fashal.

Hal itu di landasi dari materi ilmu ma’ani tentang fashal, apabila kalimat kedua menjadi bayan (penjelas) bagi kalimat pertama maka kalimat ini mempunyai kesinambungan yang sempurna dalam fashalnya. Jadi, lafadz kalimat kedua (يُفَاخِرُوْنَ بِهِ, فَالطِّيْنُ, وَالمـــَاءُ)  pada bait diatas menjelaskan lafadz kalimat pertama (فَإِنْ يَكُنْ لَـــهُمْ مِنْ أَصْلِهِمْ ثَرَفٌ), maka kalimat pertama dan kedua mempunyai kesinambungan yang sempurna dalam bentuk bayan (penjelas), dalam kondisi ini tempat wajib fashalnya adalah Kamaalul Ittishal (Kesinambungan yang sempurna).

  • Pengertian Fashal Dan Washal Dan Contohnya
  • Pengertian Fashal dan Washal

Menurut Ali Al-Jarim dan Musthafa Amin yang dimaksud Ilmu Ma’ani dengan kalimat “washal adalah meng’atafkan kalimat yang satu dan lainnya dengan wau” (Al-Jarim, 2009: 324).

Seperti :

 كقول الأبيوردي يخاطب الدهر : 

العَبْدُ رَيَّانُ مِنْ نُعْمَى تَجُوْدُ بِهَا #  وَالحُرُّ مُلْتَهَبُ الأَحْشَاءِ مِنْ ظَمَا

Dan yang dimaksud dengan “Fashal meninggalkan ‘Ataf” (Al-Jarim, 2009: 324).  seperti:

كقول المعريّ: لاَ تَطْلُبَنَّ بِآلَةٍ لَكَ حَاجَةٍ  #  قَلَمُ البَلِيْغُ بِغَيْرِ حَظِّ مِغْزَلُ

Dan pada setiap Fashal dan Washal yaitu tempat mengharapkan tujuan yang sesuai dengan situasi dan kondisi.

Dan menurut Abdurrahim Manaf (Manaf,:19) “Washal mengatafkan satu kalimat dengan kalimat yang lain dan Fashal meninggalkan ‘atafnya. Dan yang dikatakan para ulama Ma’ani sesungguhnya “ataf dengan wau khusus dan disetiap Washal dan Fashal terdapat tempat-tempatnya”.  

“Al-Fashal secara bahasa kebalikan dari Al-Washal yaitu ‘memisahkan’ atau ‘menahan’. Dan yangdimaksud dengan Al-Fashal disini adalah tidak menghubungkan dua kalimat melalui perantara wawu atahaf karena ada alasan dan ,maksud tertentu (Wahyudin, 2007: 125).

“Al-Washal secara bahasa berarti ‘menyambungkan atau menggabungkan’ yang dimaksud washal disini adalah menyambungkan dua buah kalimat dengan perantara wau ‘athaf karena alasan-alasan tertentu” (Wahyudin, 2007: 125).

Dan dikatakan menurut Ahmad Hasyim (Hasyim, : 196), Ali Al- Jarim dan Musthafa Amin (Al-Jarim, 2009: 324), dalam kitabnya sesungguhnya Washal adalah meng’atafkan satu kalimat dan kalimat lain dengan wau, dan Fashal meninggalkan ‘ataf diantara dua kalimat datang dan menyebar, merangkum salah satu dari dua kalimat tersebut dengan lainnya.

Menurut Hasyim (Hasyim, : 198) Tidak dapat memakai ‘ataf kecuali, (dengan wau) ‘ataf saja tanpa sisa huruf ‘ataf karena (wau) sesuatu yang  menyembunyikan tujuannya. Dan membutuhkan ‘ataf untuk melenturkan kebaikan mereka dalam memahami, jika tidak baik untuk kecuali mengikutkannya dan mengikutkan setelahnya  Seperti dalam penilaian sebelumnya dalam hukum, Contoh:

 مضي وقت الكسل, وجاء زمن العمل, وقم واسع في الخير.

Berbeda ‘ataf  Tidak seperti ( wau’) maka bermanfaat dengan mengikutsertakan makna lain dengan susunan yang lemah dalam (fa) seperti susunan yang dibutuhkan dalam (kemudian0 maka dengan demikian tetap huruf ‘ataf yang muncul ‘ataf yang satu darinya dengan manfaat dan tidak salah dalam penggunaanya.

  • Contoh Fashal dan Washal

Dan Contoh Fashal:

كما قال أبو الطيب :

وَمَاالدَّهْرُ إِلاَّ مِنْ رُوَاةِ قَصَائِدِي #  إِذَقُلْتُ شِعْرًا أَصْبَحَ الدَّهْرُ مُنْشِدًا

Maka kita dapatkan bahwa antara kalimat pertama dan kedua pada setiap contoh ada keterkaitan yang sangat sempurna. Kalimat kedua,

(إِذَقُلْتُ شِعْرًا أَصْبَحَ الدَّهْرُ مُنْشِدًا) tiada lain sebagai penguat bagi kalimat pertama. Dan (وَمَاالدَّهْرُ إِلاَّ مِنْ رُوَاةِ قَصَائِدِي )  makna kedua kalimat itu adalah satu.  

Dan Contoh Washal:

قول أبو العلاء المعـــــــــرّ ي:

وَحُبُّ العَيْثُ أَعْبَدَ كُلَّ حُرِّ  #  وَعَلَّمَ سَاغِبًا أَكْلَ المـــــــُــــرَارِ

Perhatikanlah dua kalimat pada(أَعْبَدَ كُلَّ حُرِّ)dan(وَعَلَّمَ سَاغِبًا أَكْلَ المـُــــرَارِ) maka kita dapatkan bahwa dua kalimat itu memiliki kedudukan dalam I’rab karena ia menjadikhabar mubtad’a yang jatuh sebelumnya, dan pembicaranya bermaksud menertakan kalimat kedua kepada kalimat pertama dalam hal i’rab ini. 

  • Tempat-Tempat Wajib Wasal Dan Fashal

Dalam Fashal dan Washal terdapat tempat-tempatnya seperti yang akan dijelaskan disini. Menurut sebagian ulama balaghah tentang tempat-tempat wajib wasal dan wajib fashal yaitu Ulama Ali Al-Jarim dan Musthafa Amin dalam Kitab Al-Balagatul Wadihah, Abdurrahim Manaf dalam Kitab Tashil dalam Funun Balaghah Al-Ma’ani, Al-Bayan, dan Albadi’, Ahmad Hasyim dalam kitab Jawahirul Balaghah fil Al-Ma’ani, Al-Bayan, dan Albadi’, Abu Ya’kub Yusuf bin Muhammad bin Ali As-Syakaki dalam kitab Miftahul ‘Ulum, Asyaikh Ahmad Damanhuri dalam kitab Jawahirul Maknun.

  1. Tempat-tempat Wajib Fashal
  2. Bila diantara tersebut terdapat kesatuan yang sempurna, seperti halnya kalimat kedua merupakan taukid (penguat) bagi kalimat pertama, atau sebagai penjelasannya atau sebagai badalnya. Disebut Kamal Ittishal.
  3. Bila kalimat kedua adalah Badal dari kalimat pertama.

Contoh:

وَاتَّقُوْا الَّذِي أَمَدَّكُمْ بِمَا تَعْمَلُوْنَ أَمَدَّكُمْ بِأَنْعَامٍ وَبَنِيْنَ 

  • Bila kalimat kedua adalah penjelas dari kalimat pertama.

Contoh :

كقوله سبحانه: فَوَسْوَسَ إِلَيْهِ الشَّـــــيْطَانُ قَالَ يَاآدَمَ هَلْ أَدُلُّكَ عَلَي شَجَرَةِ الخُلْدِ

  • Bila kalimat kedua adalah taukid dari kalimat pertama. Berbentuk taukid lafadznya atau maknanya.

Contoh :

كقول عز وجل: فَمَهِّـــــــــــلِ الــــــــــــــــكَافِرِيْنَ أَمْهِلْهُمْ رُوَيْداً

  • Bila diantara keduanya terdapat perbedaan yang sangat jauh, seperti keduanya berbeda khabar dan insya’nya. Atau tidak ada kesesuaian sama sekali diantara keduanya. Disebut juga Kamaalul Inqitha’.

Contoh:

وقول الشاعر: لا تسأل المرء عن خلائقه #  في وجهه شاهد من الخبر

  1. Bila berbeda khabar dan insya’nya: Lafadz dan Makna atau makna saja.

Contoh:

مثل : مات فلان رحمه الله / حضر الأمير حفضه الله

  • Bila diantara kedua kalimat terdapat tidak ada kaitan kesinambungan dalam makna, tetapi setiap darinya berat dengan sendirinya.

Contoh:

علي كاتب الحمام طائر

               kalimat ini tidak ada kaitan antara keduanya كتابة علي dan

طيران الحمام.

  • Bila diantara kalimat kedua jawaban dari pertanyaan yang dimengerti dari awal, disebut juga Syibhu kamaalil ittishaa.

Contoh:

كقول سبحا نه: وَماَ أُبرَّئُ نَفْسِى إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ

Kalimat pertama  ( وَماَ أُبرَّئُ نَفْسِى) dan kalimat kedua

(إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ) yaitu kalimat kedua menjadi jawaban tehadap pertanyaan yang terdpat di kalimat pertama.

  • Bila terdapat persamaan antara dua kalimat yang benar-benar ‘atafnya terhadap kalimat pertama untuk menunjukkan kesinambungannya dan pada ‘atafnyaterhadap kalimat kedua rusak dalam makna dan meninggalkan ‘atafnya. Disebut Syibhu kamaalul Inqitha. 

Contoh:

وَتَظُنُّ سَلْمَى إنَّني أبْغي بها # بَدَلاً أرَاهَا في الضَّلاَل تهيْمُ

Kalimat (أراها)   benar-benar ‘atafnya pada kalimat (تَظُنُّ)  tetapi dihalangi dalamnya menjelaskan ‘Ataf terhadap kalimat )  أَبْغِى (  maka kalimat ketiga dari  perkiraan nya tidak mempuyai tujuan.

  • Bila terdapat maksud mengikut sertakan dua kalimat dalam satu hukum I’rab. Disebut juga Tawasuth baina Kamaalain.

Contoh:

تعالى: وَإذَا خَلَوْ إلى شَيَاطِيْنِهِمْ قَالُوْ إنَّا مَعَكُمْ إنَّمَا نَحْنُ مُشْتَهْزِءُوْنَ، اللهُ يَسْتَهْزِئُ بِهِمْ.

  • Tempat-tempat Wajib Wasal

Dari perkatakaan Ali Al-Jarim Washal terdapat di tiga tempat:

  1. Jika antara dua jumlah Sama dalam Hukum I’robnya. Yaitu jika jumlah pertama wajan dari I’robnya dan sengaja diikutkan jumlah kedua kedalamnya dengan I’rob yang sama serta maknanya. Contoh seperti:

قال أبو العلاء المعرّي :

وَحُبِّ العَيْشِ أَعْبَدَ كُلَّ حُرٍّ # وَعَلَّمَ سَاغِبًا أَكْلَ المُــــــــــــــــــــرَارِ

Perhatikanlah dua kalimat pada (أَعْبَدَ كُلَّ حُرِّ) dan

(وَعَلَّمَ سَاغِبًا أَكْلَ المـُــــرَارِ) maka kita dapatkan bahwa dua kalimat itu memiliki kedudukan dalam I’rab karena ia menjadikhabar mubtad’a yang jatuh sebelumnya, dan pembicaranya bermaksud menertakan kalimat kedua kepada kalimat pertama dalam hal i’rab ini.  . 

  • Jika sesuai dalam jumlah khabar atau Insya dan antara dua jumlahnya sesuai serta bersambung dengan tepat, dan tidak ada penyebab untuk fashal diantaranya dua jumlah tersebut.

Misalnya :

إِنَّ الأَبْرَارَ لَفِي نَعِيْمٍ وَإِنَّ الفُجَّارَ لَفِي جَحِيْمٍ/

 فَادْعُ وَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ

  • Kesalahan dalam Maksud atau Bisa dikatakan bermaksud menghilangkan salah dalam jawaban. Yaitu kesalahan dua jumlah dalam khabariyah ataupun insyaiyah. Dan Fashal menutup kesalahan Maksud.

Seperti:  

 ( لا سفاه الله )dari pertanyaan :هل برئ علي من المرض ؟    maka wau ditinggalkan untuk menutup pendengar dari doa’nya dan ini keslahan maksud karena maksudnya adalah doa’ untuknya.

PENUTUP

  1. Simpulan

Dan setelah penulis meneliti kalimat bait-bait yang terdapat pada Diwan Imam Ali bin Abi Thalib, didalamnya banyak sekali jumlah kalimat yang disambung ataupun dipisahkan atau difashal dan diwashalkan.

Pada Qafiyah Alif terdapat 25 bentuk Fashal, 31 bentuk Washal dan dalam Qafiyah Ba’ ada 101 bentuk fashal, 129 bentuk washal setelah melalui sampling pada Qafiyah Ba’ diambil 30 bentuk fashal, 30 bentuk washal, telah disebutkan serta dijelaskan seluruhnya di bab 3.

Maka hasil pada penelitian ini diringkas adalah:

  1. TEMPAT WAJIB FASHAL DAN WASHAL
  2. Tempat Wajib Fashal adalah:
  3. Kamaalul Ittishal (Kesinambungan yang sempurna). Terdapat 31 yaitu 12 pada Qafiyah Alif dan 19 Pada Qafiyah Ba’.
  4. Syibhu Kamaalul Ittishal (Kemiripan kesinambungan yang sempurna). Terdapat 4 yaitu 2 pada Qafiyah Alif dan 2 Pada Qafiyah Ba’.
  5. Kamaalul Inqitha (keterputusan yang sempurna). Terdapat 20 yaitu 11 pada Qafiyah Alif dan 9 Pada Qafiyah Ba’.
  6. Tempat Wajib Washal adalah:
  7. Menyertakan dua kalimat dalam hukum I’rab. Terdapat 23 yaitu 11 pada Qafiyah Alif dan 12 Pada Qafiyah Ba’.
  8. Sesuai dalam Kalam Khabar. Terdapat 30 yaitu 16 pada Qafiyah Alif dan 14 Pada Qafiyah Ba’.
  9. Sesuai dalam Kalam Insya. Terdapat 8 yaitu 4 pada Qafiyah Alif dan 4 Pada Qafiyah Ba’.
  • TEMPAT WAJIB FASHAL DAN WASHAL
  • Sebab Fashal adalah:
  • Kalimat kedua menjadi Bayan (penjelas) bagi kalimat pertama.
  • Kalimat kedua menjadi jawaban bagi kalimat pertama.
  • Kalimat pertama dan kedua pada jumlah terdapat perbedaan yang sangat jauh dari bentuk khabar dan insya.
  • Sebab Washal adalah:
  • Kalimat pertama memiliki kedudukan dalam I’rab, yang sama dengan kalimat yang kedua
  • Kedua kalimat sama-sama dalam kalam Kabar yang berkesesuaian maknanya. Lafadz Kalimat pertama memiliki kedudukan yang sama dalam khabar dengan kalimat yang kedua.
  • Kedua kalimat sama-sama dalam kalam Insya yang berkesesuaian maknanya. Lafadz Kalimat pertama memiliki kedudukan yang sama dalam insya dengan kalimat yang kedua.
  • Saran

Dalam pembahasan Fashal dan Washal penulis harus memahami keseleruhan materi yang terdapat dalam Ilmu Ma’ani, dan penulis mengharapkan kepada pembaca agar menyempurnakan bila terdapat kesalahan dalam penelitian ini. Dan semoga penelitian ini dapat diterima oleh pembaca atau penulis lain  yang membahas kajian Fashal dan Washal atau dengan judul lainnya.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Ahdori, Abdurrahman, terjemahan Jauharul Maknun, Surabaya, Mutiara Ilmu, 2009

Al-Jarim, Ali, Mustafa Usman. 1998. Balaghatul al-Wadhihah. Jakarta: Rupah Faris. 2007.

Al-Jarim, Ali, Mustafa Usman. 1998. Terjemahan Balaghatul al-Wadhihah. Bandung: Sinar Baru Algesindo. 2011

Aminuddin, Pengantar Apresiasi karya satra, Bandung, Sinar baru Algesindo. 2009.

Damanhuri, Syaikh Ahmad, Jaukharul Mkanun,  Darul Ihyaul Kitab Arabiah

Hasyim, Ahmad, Jawahirul Blaghah, Darul Ihyaul Kitab Arabiah

Kamil, Sukron, Teori Kritik Sastra Arab, Jakarta: Rajawali Pers, 2009

Karim, Abdul Aziz, Diwan Imam Ali Bin Abi Thalib, Beirut: Maktabah Tsaqafiyah, 8737

Ratna, Nyoman Kutha. 2010. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Wahyudin, Yuyun. 2007. Menguasai Balaghah Cara Cerdas Berbahasa. Yogyakarta: Nurma Media Idea.