Publikasi Artikel

Artikel Umum

Oleh Prof. Dr. H. Dedi Ismatullah, SH., M.Hum)*

Taat pada negara tidak perlu diperdebatkan lagi, wajib. Substansi dari ketaatan pada negara adalah ketaatan pada konstitusi. Dalam teori politik aliran Sunni (sebuah aliran pemikiran politik Islam) dikatakan, ketaatan pada negara tidak terkait dengan baik atau buruknya pemimpin, sebab yang ditaati adalah konstitusi bukan individu.

Terjadi sebuah ironi pada saat Taufik Kiemas, Ketua MPR RI, wafat. Pemerintah mengajak agar menaikkan bendera merah putih setengah tiang, sebagai penghormatan kepada pemimpin lembaga tinggi negara. Namun, ajakan tersebut hanya didengar oleh segelintir orang. Tidak ditemukan banyak orang yang menaikkan bendera setengah tiang, baik di rumah-rumah penduduk maupun di kantor-kantor instansi pemerintahan.

Ajakan yang disampaikan pemerintah untuk menaikkan bendera setengah tiang adalah dalam rangka menghargai lembaga negara, bukan menghargai individu. Namun, ajakan tersebut tidak mendapat respon positif dari rakyat. Apakah ini sebuah pertanda bahwa bangsa Indonesia tidak cinta pada pemimpinnya?

Hal ini merupakan persoalan penting yang harus mendapat perhatian. Kehilangan pemimpin di negeri ini, wafat umpamanya, tidak menjadikan sedih masyarakat dan merasa kehilangan. Berapa orangkah orang yang meneteskan air mata ketika ada pemimpin atau mantan pemimpin meninggal? Saya pikir hanya keluarganya yang meneteskan air mata. Bahkan, mungkin saja ada yang berbahagia, terutama lawan politiknya. Fenomena ini merupakan data kasat mata yang bisa dibaca bahwa militansi dan rasa memiliki rakyat pada negara sangat lemah, sebagaimana tercermin dalam ketidakmerasaan kita ketika kehilangan pemimpin negeri ini.

Ketika kita berbicara NKRI, pertanyaan yang muncul, siapa yang berani pasang badan untuk menaruhkan nyawa dalam rangka membela negeri ini? Adakah para pemuda bangsa ini yang siap untuk berada di garis depan medan perjuangan untuk mengangkat senjata, andaikan (mudah-mudahan tidak pernah terjadi) ada serangan militer negara lain?

Adagium Islami yang popular di tahun 80-a dan sering didengungkan adalah: cinta tanah air bagian dari keimanan (hubbul wathan minal iman). Belakangan ini kata-kata tersebut hilang dari peredaran. Para juru dakwah dan birokrat sudah tidak banyak lagi menggunakan kalimat tersebut dalam biantara mereka.

Jadi, apa penyebab melunturnya militansi bangsa ini terhadap negara dan mengutuhnya apatisme? Kita pernah menuding atau mengambinghitamkan modernisasi yang meluluhlantahkan militansi bangsa ini, termasuk melunturkan ideologi yang dipegangnya.

Tudingan tersebut keliru. Toh, di negara-negara yang lebih modern dibanding kita rakyatnya tidak kehilangan keberpihakan pada negara. Nasionalisme mereka sangat kuat.  Mereka tetap bersedia bayar pajak yang tinggi pada negara dan tidak kehilangan taat pada aturan-aturan yang dibuat negara. Bahkan, ketika salah seorang pemimpin mereka meninggal, gambaran sedih dan kehilangan tampak dari sikap mereka. Belakangan ini kita menyaksikan bagaimana rakyat Venezuela yang merasa sedih atas kehilangan Hugo Chavez dan rakyat Inggris yang kehilangan Margaret Thatcher. Kurang modern apa mereka dibanding kita, tapi keberpihakan pada Negara tetap tinggi.

Muncul sebuah dugaan bahwa penyebab melunturnya ketaatan bangsa pada negara adalah perilaku orang-orang yang menjalankan organisasi negara ini. Tampaknya, ini dugaan kuat. Syahwat korupsi yang tidak mengendur di kalangan para penyelenggara negara ini, bahkan semakin meluap-luap, merupakan faktor dominan yang menyebabkan lunturnya keberpihakan bangsa ini pada negara.

Selain syahwat korupsi, ada juga faktor yang membinasakan ketaatan rakyat pada negara, yaitu kepurapuraan para pemimpin. Purapura simpatik, purapura merakyat, purapura sederhana, dan purapura lainnya.

Kita sering melihat kepurapuraan pemimpin pada saat terjadi bencana. Ketika terjadi banjir, upamanya, seorang pemimpin, lebih banyak lagi calo(n) pemimpin, disorot kamera berada di tengah-tengah luapan air. Itu pun di tempat yang dangkal, bukan di tempat yang deras airnya. Perbuatan ini disangka sebuah bentuk simpatik kepada rakyat dan rakyat pun tertipu dengan ulah tersebut; mereka menganggap dia pemimpin yang sebenarnya.

Apakah dengan berada si pemimpin di tengah-tengah luapan air tersebut banjir menjadi teratasi? Tidak. Toh, dia bukan mau mengatasi banjir, melainkan mau mencuri perhatian rakyat untuk kepentingan-kepentingan pragmatis. Buktinya, banjir masih tetap parah dan malah semakin tidak teratasi.

Menurut saya, itulah salah satu problem mendasar kenapa ketaatan bangsa ini pada negara sangat rendah. Selama para penyelenggara negara terus-terusan dikuasai oleh syahwat korupsi dan dijangkiti kepurapuraan, dipastikan rakyat ini akan semakin luntur ketaatannya pada negara.

Saya ingin mengingatkan kepada banyak orang. Kita harus membedakan antara ketaatan pada individu dan pada negara. Ketaatan pada individu itu terbatas oleh ruang dan waktu, sedangkan ketaatan pada negara abadi, tidak terbatas. Sehubungan dengan ini pula, kita tidak elok mengamuk dan merusak fasilitas publik, hanya gara-gara calon pemimpin yang kita usung kalah dalam pertarungan politik.

Resiko dari sebuah negara yang didasarkan pada konstitusi adalah bahwa keberpihakan tertinggi hanya pada aturan bukan pada perseorangan. Ketika menurut konstitusi individu kalah atau salah, tidak ada lagi ruang untuk berbuat anarkis dengan dalih membela individu yang bersangkutan. Kita belajar berpihak pada konstitusi, walaupun sulit dan susah dilaksanakan.

Deddy Ismatullah, Guru Besar Hukum Tata Negara, Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung & Ketua DEwan Pembina Yayasan Pendidikan Syamsul Ulum Sukabumi.

Sumber Pikiran Rakyat, 14 Juni 2013

Artikel Umum

Diterbitkan oleh salah satu jurnal internasional, (International Journal Science, Technology Research/IJSTR).

Tulisan selengkapnya di : http://www.ijstr.org/paper-references.php?ref=IJSTR-0113-5636

Artikel Umum

Oleh : Wibowo
Penulis Buku Asmaul Husna Pembuka Pintu Rezki

SEBAGAIMANA Rasulullah Nabi Muhammad SAW menyampaikan hadis qudsi, “Semua amalan anak Adam untuknya kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku”. “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”. (Q.S Al-Baqarah: 183).

Semua kitab suci, yakni Taurat, Zabur, Injil, dan Alquran diturunkan pada bulan suci Ramadhan. Puasa bulan Ramadhan ini untuk-Ku, demikian bunyi hadis qudsi di atas. Artinya, ibadah puasa yang dijalankan oleh manusia, untuk Allah SWT, pahalanya akan diberikan kepada hamba-Nya di kemudian hari. Firman Allah SWT, “dan Sesungguhnya Kami telah berikan kepada Musa Al-Kitab (Taurat), maka janganlah kamu (Muhammad) ragu menerima (Al-Qur’an itu) dan Kami jadikan Al-Kitab (Taurat) itu petunjuk bagi Bani Israil”. (Q.S As-Sajdah: 23).

Oleh sebab itu, saat Nabi Muhammad SAW di usia 40 tahun, beliau sedang bertahanus pada suatu malam tanggal 17 Ramadhan 610 H di gua Hira di gugusan Jabal Nur, menerima wahyu pertama dari Allah SWT. Al-ur’an adalah sebuah bentuk pahala di dunia dan akhirat kelak yang diberikan oleh Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya yang dengan niat Lillahi Ta’ala, dengan sabar dan ikhlas menjalankan ibadah puasa selama Ramadhan penuh. “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu Maha Mulia. Yang mengajarkan manusia dengan pena. Mengajarkan manusia apa yang tidak diketahui”. (Q.S Al-Alaq: 1-5).

Firman Allah SWT, “Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku dan Kuridhoi Islam itu sebagai agamamu”. (Q.S Al-Maidah: 3).

Wahyu pertama (Al-Alaq: 1-5) ini pertanda untuk memerangi manusia dari kebodohan, karena pada masa itu terjadi zaman Jahiliyah (zaman kebodohan). Sebab itu, cendikiawan-cendikiawan Muslim, menjadikan wahyu pertama dari Allah SWT kepada Rasulullah Nabi Muhammad SAW sebagai acuan bagi pemikiran tentang Pendidikan Agama Islam yang saat ini dipakai di pesantren-pesantren dan Universitas Islam Negeri (UIN) untuk melahirkan manusia Indonesia yang cerdas dan memiliki akhlak yang baik sesuai dengan cita-cita Pendiri Republik, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan untuk menjadi manusia cerdas adalah sebuah pahala dari Allah SWT kepada hamba-Nya. Pahala yang berbentuk nikmat dunia. Jika kita umat Muslim Indonesia, masih menggunakan pemikiran-pemikiran sarjana Barat untuk memajukan pendidikan nasional Indonesia, berarti suatu kemunduran, dan kemunduran itu suatu kebodohan.

Firman Allah SWT, “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa rasul. Apakah jika ia wafat atau dibunuh kamu akan berbalik kembali ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat sedikitpun kepada Allah SWT; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur”. (Q.S Ali Imran: 144).

Alquran adalah sebagai bentuk pahala dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW dan umatnya untuk di dunia dan akhirat kelak agar umat muslim dan umat manusia pada umumnya selamat di dunia dan di akhirat kelak.

Dalam Pembukaan UUD 1945 disebutkan, “Bahwa dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa, dengan ini diproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia”. Tuhan Yang Maha Esa adalah Allah SWT, artinya bahwa bangsa Indonesia telah diberi nikmat kemerdekaan oleh Allah SWT. Baik kaum Muslim yang duduk di Kemendiknas, Pemerintahan, ICMI, dan MUI, seyogyanya berjuang (jihad) bahu membahu agar sistem pendidikan nasional Indonesia mengacu kepada Al-Qur’an sebagai bentuk rasa syukur yang sangat mendalam kepada Allah SWT.Rasulullah SAW bersabda, “Jika kalian ingin selamat di dunia dan akhirat kelak, tetaplah kalian berpegang teguh kepada dua perkara (Al-Qur’an dan sunahku)”.(*)

)* Koord. Perpustakaan STAI Syamsul Ulum Sukabumi

Short URL: http://radarsukabumi.com/?p=78521

Artikel Umum

Drs.H.A Suganda, M.Ag

Oleh Drs.H.A Suganda, M.Ag
Ketua DKM Masjid Nurul Ulum Ponpes Syamsul Ulum

Zakat, infaq, dan shadaqoh (ZIZ), ketiga istilah ini sangat akrab di telinga kita seolah sudah menjadi satu kesatuan. Tetapi sesungguhnya masing-masing istilah itu punya hakikat dan pengertian sendiri-sendiri yang cukup spesifik, sehingga kita perlu menyebutnya satu persatu. Karena bukan sinonim, bahkan dari segi hukum juga sangat berbeda.

Zakat merupakan salah satu pesan Islam yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan dasar umat manusia, yakni terciptanya kesejahteraan ekonomi yang seimbang, tidak menimbulkan kecemburuan yang makin tajam antara kaum kaya dan miskin. Zakatlah pesan Islam yang pernah mendapat prioritas pembinaan umat ketika Nabi Muhammad SAW pertama kali membina masyarakat di kota Madinah.

Zakat juga adalah ajaran Islam yang memiliki dimensi ganda, yaitu spiritual dan material. Selain itu, zakat pun berdimensi sosial yang berarti bahwa pemenuhan kebutuhan material, bukan hanya berorientasi pada situasi individual tetapi juga sosial. Prinsip zakat menjadi alternatif dalam membangun kekuatan ekonomi umat dan sekaligus menciptakan kesejahteraan dan iklim kebersamaan ukhuwah Islamiyah. Akan tetapi prakteknya, membina kesejahteraan umat melalui zakat tidak semudah seperti kita membalikkan tangan. Sebab, kita masih sering mendapatkan kesulitan ketika memilih zakat sebagai alternatif mensejahterakan umat.

Zakat adalah shadaqoh yang hukumnya wajib, maka para ulama sepakat untuk menyebutnya sebagai zakat. Pendayaan zakat dapat diperuntukkan bagi usaha produktif, apabila kebutuhan mustahiq delapan asnaf sudah terpenuhi dan terdapat kelebihan. Penyaluran zakat dalam bentuk ini adalah bersifat bantuan pemberdayaan ekonomi umat melalui melalui program atau kegiatan ekonomi yang berkesinambungan.

Kalau infaq bermakna mengeluarkan atau membelanjakan harta. Berbeda dengan yang sering kita pahami dengan istilah infaq yang selalu dikaitkan dengan sejenis sumbangan atau donasi. Istilah infaq dalam bahasa Arab sesungsuhnya masih sangat umum. Intinya, hanya mengeluarkan harta atau membelanjakannya. Apakah untuk kebaikan, donasi, atau sesuatu yang bersifat untuk diri sendiri, atau bahkan keinginan dan kebutuhan yang bersifat konsumtif. Semua masuk dalam istilah infaq. Sedangkan shadaqoh punya kemiripan dengan istilah infaq di atas, tetapi lebih spesifik. Shadaqoh adalah membelanjakan harta atau mengeluarkan dana dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ar-Raghib al-Asfahani mendefinisikan shadaqoh adalah, harta yang dikeluarkan oleh seseorang dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Jadi ada perbedaan antara infaq dan shadaqoh dalam niat dan tujuan, dimana shadaqoh itu sudah jelas dan spesifik bahwa harta itu dikeluarkan dalam rangka ibadah kepada Allah SWT. Sedangkan infaq, ada yang sifatnya ibadah (mendekatkan diri kepada Allah) dan juga yang bukan ibadah. Maka istilah shadaqoh tidak bisa dipakai untuk membayar maksiat, atau memberi suap kepada pejabat. Sebab, shdaqoh hanya untuk kepentingan ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT saja. (*)

Short URL: http://radarsukabumi.com/?p=78854

Artikel Umum

More Articles...

Page 9 of 14

9

Member Login