Publikasi Artikel

Artikel Umum

Oleh : Jasmansyah, M.Pd)*

just baru

Undang–Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen secara eksplisit mengamanatkan adanya pembinaan dan pengembangan profesi guru secara berkelanjutan sebagai aktualisasi dari sebuah profesi pendidik. Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan dilaksanakan bagi semua guru, baik yang sudah bersertifikat maupun belum bersertifikat. Salah satu agenda utama pemerinatah dalam rangka pembinaan dan peningkatan guru adalah melalui UKG. Menurut pedoman pelaksanaan Uji Komepetensi Guru (UKG) yang dikeluarkan kemendikbud (www.gtk.kemendikbud.go.id), ada dua skema yang akan dilakukan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk mengukur profesionalisme guru, secara akademis dan non-akademis. Pengukuran akademis dilakukan secara rutin setiap tahun yaitu dengan menyelenggarakan UKG, dan pengukuran non-akademis dengan melakukan penilaian terhadap kinerja guru/PKB.

Bagi komunitas guru, baik PNS maupun non-PNS Uji Kompetensi Guru (UKG) adalah issue yang paling hangat dibicarakan akhir-akhir ini. Berbagai diskusi seputar UKG tidak hanya ramai di dunia nyata, namun juga menjadi trending topic di sosial media. Pro dan kontra seputar UKG pun bermunculan.  Adanya penolakan dari berbagai pihak terhadap pelaksanaan UKG, tidak menyurutkan niat pemerintah (baca : kemdikbud) untuk menyelenggarakn Uji Kompetensi Guru (UKG) yang akan dilaksanakan secara nasional pada tanggal  9 – 25 Nopember 2015, yang untuk mengetahui level kompetensi individu guru dan peta penguasaan guru pada kompetensi pedagogik dan kompetensi profesional. Pelaksanaan UKG difokuskan pada identifikasi kelemahan guru dalam penguasaan kompetensi pedagogik dan professional (Kemdikbud, 2015 : 3).

Menurut Pedoman Pelaksanaan Uji Kompetensi Guru (UKG) yang dikeluarkan Kemdikbud, ada beberapa landasan teoritik pedagogis yang melatar belakangi pelaksanaan UKG. 1) UKG adalah penilaian terhadap kompetensi guru sebagai bagian penilaian kinerja guru dalam rangka pembinaan karir kepangkatan dan jabatannya; 2) Pembinaan dan pengembangan profesi guru hanya dapat dilakukan secara efektif jika berbasis pada pemetaan kompetensi guru; 3) Uji kompetensi guru berfungsi sebagai pemetaan kompetensi guru (kompetensi pedagogik dan profesional), sebagai dasar program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) dan bagian dari proses Penilaian Kinerja dan Kompetensi (PKK). 4) Untuk membangun eksistensi dan martabat sebuah profesi diperlukan mutu atau kualitas para anggota yang tergabung dalam profesi tersebut. Mutu atau kualitas diperoleh dari upaya pengembangan keprofesian berkelanjutan dan pengendalian yang dilaksanakan secara terus menerus dan tersistem. Upaya pengendalian dilakukan melalui pengujian dan pengukuran. Profesi guru akan bermutu jika secara terus-menerus dilakukan pengujian dan pengukuran terhadap kompetensi guru melalui uji kompetensi guru. 5) Ukuran kinerja dapat dilihat dari kualitas hasil kerja, ketepatan waktu menyelesaikan pekerjaan, prakarsa dalam menyelesaikan pekerjaan, kemampuan menyelesaikan pekerjaan, dan kemampuan membina kerjasama dengan pihak lain (T.R. Mitchell, 2008).

Uji Kompetensi Guru (UKG) sejatinya adalah dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Salah satu faktor utama dalam dunia pendidikan adalah tersedianya guru yang professional dan kompeten (Dirjen GTK, 2015 : www.tempo.co). Tujuan pelaksanaan UKG adalah untuk: 1)  Memperoleh informasi tentang gambaran kompetensi guru, khususnya kompetensi pedagogik dan profesional sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.  2) Mendapatkan peta kompetensi guru yang akan menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan jenis pendidikan dan pelatihan yang harus diikuti oleh guru dalam program pembinaan dan pengembangan profesi guru dalam bentuk kegiatan pengembangan keprofesian berkelanjutan (PKB). 3. Memperoleh hasil UKG yang merupakan bagian dari penilaian kinerja guru dan akan menjadi bahan pertimbangan penyusunan kebijakan dalam memberikan penghargaan dan apresiasi kepada guru. (Kemdikbud, 2015 : 13).

Uji Kompetensi Guru (UKG) tahun 2015 ini bukalah yang pertama. UKG telah dilaksanakan pertama kali oleh pemerintah pada tahun 2012 secara online. Menurut data dari Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Penjaminan Mutu Pendidik (BPSDMP-PMP) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) bahwa nilai rata-rata nasional Uji Kompetensi Guru (UKG) pada saat itu rata-rata 4,5. Data tersebut menunjukkan bahwa rata-rata kompetensi guru masih jauh dari yang diharapkan. Hasil UKG nantinya dapat digunakan pemerintah untuk merencanakan program jangka pendek dan jangan panjang guna peningkatan kualitas guru di Indonesia. (www.edukasi.kompas.com, 15 Agustus 2012).

Banyak kendala teknis yang dialami guru dalam mengkuti UKG secara online pada tahun 2012 silam. Diantara kendala-kendala teknis terebut adalah : 1) Ketersediaan prasarana yang belum memadai (computer, internet, dll) 2) Masih banyak guru yang belum menguasai computer, sehingga sangat menghambat pelaksanaan UKG. 3) Pelaksanaan UKG yang terkesan “tergesa-gesa” dan “dipaksanakan”, sehingga hasilnya pun tidak maksimal (www.pikiran-rakyat.com, 2012). Berkaca dari UKG tahun 2012 lalu, kini pemerintah benar-benar telah menyiapkan berbagai instrument untuk suksesnya pelaksanaan UKG, mulai dari sarana-prasarana, konten soal, SDM, dll.

Pada tahun 2015 ini, pemerintah akan melaksanakan UKG dengan dua system, yaitu system online dan sistem offline. Sistem online, dilaksanakan pada daerah yang terjangkau jaringan internet dan memiliki ruangan yang berisi perangkat laboratorium komputer dan terhubung dalam jaringan intranet. Sedangkan  Sistem offline atau manual dilaksanakan pada daerah yang tidak terjangkau jaringan internet dan tidak memiliki ruangan yang berisi laboratorium komputer dan tidak terhubung dalam jaringan internet. UKG online tahun 2015 akan berlangsung antara tanggal 9-27 November 2015 secara serentak di seluruh Indonesia. Jadwal pelaksanaan UKG ditentukan bersama oleh PPPPTK/LPPKS/ LPPPTK-KPTK, bersama LPMP dan dinas pendidikan kab/kota. Pelaksanaan UKG Offline dilaksanakan serentak di seluruh Indonesia selama 1 (satu) hari, jadwal pelaksanaan akan ditentukan kemudian diantara tanggal pelaksanaan UKG online atau setelah UKG online selesai.

Uji Kompetensi Guru (UKG) akan mengukur kompetensi dasar tentang bidang studi (subject matter) dan pedagogik dalam domain content. Kompetensi bidang studi yang diujikan sesuai dengan bidang studi sertifikasi (bagi guru yang sudah bersertifikat pendidik) dan sesuai dengan kualifikasi akademik guru (bagi guru yang belum bersertifikat pendidik). Kompetensi pedagogik yang diujikan adalah integrasi konsep pedagogik ke dalam proses pembelajaran bidang studi tersebut dalam kelas. Pendekatan yang digunakan adalah tes penguasaan substansi bidang studi (subject matter) berdasarkan latar belakang pendidikan, sertifikat pendidik dan jenjang pendidikan tempat guru bertugas. Oleh karena itu instrumen tes untuk guru SD, SMP, SMA dan SMK akan dibedakan sesuai dengan jenjang pendidikan tempat guru tersebut bertugas.

Uji kompetensi pedagogik mengunakan pendekatan inti sel dari varian kompetensi pedagogik dimaksud. (Kemdikbud, 2015 : 7). Jumlah soal UKG adalah 120 soal (pilihan ganda) dan harus diselesaikan dalam waktu 120 menit. Materi pertanyaan akan berbeda-beda yang disesuaikan dengan latar belakang pendidikan, sertifikasi pendidik dan jenjang pendidikan tempat guru bertugas (Sumarna Surapranata, Dirjen GTK di : www.jawapos.com, 17 Oktober 2015). Selain itu, pemerintah menetapkan KKM 5.5 sebagai batas minimal kelulusan guru. Pasca UKG, pemerintah akan mengevaluasi dan memberikan modul pembelajaran sesuai dengan tingkat kelululusannya.

Pelaksanaan UKG memiliki tujuan yang sangat mulia. Tujuan mulia tentu harus didukung oleh semua pihak, khususnya guru. Hasil UKG tidak ada hubungannya dengan kelayakan guru menerima tunjangan profesi, tapi lebih kepada pemetaan guru secara nasional yang nantinya digunakan untuk pembinaan guru secara berkelanjutan. Yang harus dilakukan guru saat ini adalah mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk menghadapi pelaksanaan UKG. Kalau siswa kita uji berkali-kali, mengapa guru harus takut di uji? (Anis baswedan, www.merdeka.com)

Sebagai akhir dari tulisan ini, penulis ingin memberikan beberapa tips menghadapi UKG. 1). Pelajari kisi-kisi soal Uji Kompetensi Guru (UKG). Kisi-kisi UKG sudah banyak beredar di media online. Kisi-kisi UKG 2015 juga dapat di unduh di www.gtk.kemdikbud.go.id); 2). Latihan menjawab soal. Prediksi soal UKG banyak terdapat di media online. Para guru guru bisa mengunduh dan menjawab soal-soal tersebut sesuai dengan bidang studinya. 3). Melakukan diskusi bersama komunitas guru (MGMP/KKG). Hal ini akan sangat membantu guru dalam memecahkan beberapa persoalan yang sulit dipecahkan secara mandiri. Mendiskusikan suatu masalah secara bersama-sama akan memudahkan guru dalam memecahkan berbagai persoalan. 4). Ada baiknya mencari beberapa referensi sebagai bahan bacaan dalam rangka mempersiapkan UKG. 5). Mengikuti berbagai kegiatan pelatihan, diklat, workshop, seminar dan sejenisnya yang dapat memberikan informasi baru ihwal pedagogis mapun professional. 6) UKG jangan dianggap sebagai beban, namun harus dinikmati sebagai salah satu kewajiban guru dalam rangka meningkatkan komptensi. Selamat Ber-UKG! UKG untuk guru berkualitas, bermartabat dan sejahtera!

 

)*Kandidat Doktor di UIN Bandung, Dosen STAI Syamsul Ulum Sukabumi, Guru SMAN 1 Cibadak, Ketua MGMP dan IGI Kabupaten Sukabumi.

 

Artikel Umum

Dadang Jaya

Mahasiswa sebagai calon pendidik, pemimpin dan calon ilmuan yang akan datang harus dibekali dengan seperangkat kemampuan akademik non akademik sehingga mahasiswa siap memasuki kehidupan dunia global yang ditandai dengan kompetensi yang semakin ketat dan terbuka.

Untuk itu mahasiswa harus dinamis, produktif, inovatif, kualitatif dan variatif dengan berbagai strategi yang bernuansa ilmiah.  Mahasiswa yang tidak mempunyai ciri semacam ini pantas dipertanyakan kredibilitas sebagai calon intelektual dan calon pemimpin masa depan

Sehingga penulis merasa tertarik untuk mengkaji dari budaya gaul mahasiswa akademika dan kemahasiswaan di kampus, wajah mahasiswa dapat dibagi atas 3 (tiga) tipe golongan, yaitu:

Pertama, organisation-oriented student, yakni mahasiswa atau kelompok mahasiswa yang aktif mengikuti berbagai kegiatan kemahasiswaan di luar kuliah tatap muka dengan dosen. Tipe mahasiswa ini biasanya bercirikan dengan hal-hal sebagai berikut: (1) gaul dan pintar melobi; (2) rajin jalan-jalan di luar waktu kuliah; (3) gesit melobi dosen; dan (4) banyak gaul sesama aktivis dari Perguruan Tinggi (PT) lain.

Kedua, academic-oriented student, yakni mereka yang tidak aktif mengikuti kegiatan di luar waktu perkuliahan. Ciri-ciri kelompok kedua ini antara lain: (1) pintar melobi; (2) rajin kuliah; (3) pandai cari IP; (4) tidak gaul dengan jaringan mahasiswa dari PT lain; (5) masa bodo/EGP terhadap masyarakat dan lingkungan sekitarnya.

Ketiga, multi-oriented student, yakni mahasiswa yang memadukan aktivitas dan perkuliahan secara berimbang. Tipe mahasiswa ini biasanya ditandai dengan: (1) gaul dan pandai melobi dosen; (2) rajin kuliah tapi sering juga ijin mengikuti kegiatan kemahasiswaan; (3) bergaya diplomat ulung dalam setiap diskusi kelas; (4) berfikir value (IP; (5) memiliki jaringan kuat dengan mahasiswa dari Perguruan Tinggi lain.

Oleh sebab itu, mahasiswa harus dibina dan ditumbuhkembangkan dengan memakai metoda filosofisair mengalir sampai jauh”. Mahasiswa adalah insan progresif dan dinamis yang sedang tumbuh berkembang, proses kedinamikaan, tidak bisa diduga dan penuh misteri. Mereka ibarat air mengalir sampai jauh. Perilaku air mengalir selalu mencari tempat yang lebih rendah dan tidak pernah berhenti. Jika air sungai berhenti berarti sudah mendapatkan wadah yang tenang atau sumber mata air telah mati. Kalau sumber mata air masih hidup sekecil apapun itu,  pasti terus mengalir. Ia bisa bergerak lamban atau deras kencang yang di dalamnya banyak aliran yang mengalir terpisah, tetapi suatu saat ia akan bertemu di suatu tempat dan dapat berpisah kembali. Itulah filosofis air mengalir sampai jauh.

Jika air yang mengalir sampai jauh itu tersumbat tanpa diberi saluran (jalan keluar) maka dia akan mencari titik-titik lemah atau mencari organ-organ yang bisa ditembus. Sekiranya tempat itu tidak bisa ditembus, maka perilaku air mengalir akan pasang (naik) dan akibatnya timbul banjir yang dahsyat dan lebih membahayakan bagi kehidupan dan lingkungan sekitarnya dibanding jika air itu memungkinkan mengalir sampai jauh.

Pembentukan kepribadian mahasiswa seharusnya ada kaitan antara transfer of value dan transfer of knowledge dengan pembentukan prilaku mahasiswa (transformatif). Dengan demikian akan tercapai tujuan pembinaan yakni mahasiswa mempunyai kemampuan hard skill, soft skill dan berkepribadian yang luhur. Akibatnya, terlihat “wajah mahasiswa akademika yang tidak loyo dan impoten” di tengah arus globalisasi yang deras dalam masyarakat.

Artikel Umum

Ulama adalah pewaris para nabi, pengemban risalah yang membebaskan manusia. Selengkapnya di http://radarsukabumi.com/?p=141704

Artikel Umum

ARTI PENTING MONITORING, EMIS, PDPT DAN AKREDITASI BAGI KELANGSUNGAN

OPERASIONAL PENDIDIKAN DI PERGURUAN TINGGI


Oleh : Dadang Jaya

Perilaku kreatif adalah hasil dari pemikiran kreatif oleh karena itu hendaknya sistem pendidikan nasional dapat merangsang pemikiran, sikap dan perilaku kreatif-produktif, disamping pemikiran logis dan penalaran. Sesungguhnya potensi kreatif dapat dimiliki oleh semua orang dalam semua bidang kehidupan, dalam Al-Qur’an surat Ar-Ra’du ayat 11 :


Artinya :

“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”.

Kreativitas sangat diperlukan bagi kelangsungan proses pendidikan yang terjadi di Perguruan Tinggi. Kreativitas seseorang atau kelompok,  apalagi berbentuk institusi pendidikan merupakan faktor dominan dan pegang peranan penting agar proses pendidikan itu dapat berlangsung dengan baik, efektif, dan efisien bagi peserta didik. Kreativitas itu merupakan suatu kegiatan, seperti misalnya Monitoring, EMIS, PDPT, dan Akreditas yang memiliki arti penting bagi Perguruan Tinggi,

Apa  itu Monitoring, EMIS, PDPT dan Akreditasi ?

  1. Monitoring adalah proses rutin pengumpulan data dan pengukuran kemajuan atas obyektif program, memantau perubahan yang fokus pada proses dan keluaran,
  2. EMIS adalah Education Management Information System,
  3. PDPT adalah kegiatan pengumpulan, pengolahan, dan penyimpanan data serta informasi tentang perguruan tinggi dan
  4. Akreditasi adalah pengakuan terhadap lembaga pendidikan yang diberikan oleh badan yang berwenang setelah dinilai bahwa lembaga itu memenuhi syarat kebakuan atau kriteria tertentu.

Monitoring ini menjadi tolok ukur baik dan tidaknya lembaga pendidikan tinggi melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi bila dilihat dari instrumen-instrumen perguruan tinggi. Instrumen-instrumen atau poin-poin Monev ini akan terkait dengan instrumen-instrumen EMIS,  Pangkalan Data Perguruan Tinggi (PDPT) dan instrumen-instrumen Akreditasi yang satu sama lain saling terkait.

Sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang RI Nomor 12 Tahun 2012 tentang Perguruan Tinggi Bab III Bagian Keempat Pasal 56 PDPT adalah salah satu instrumen penjaminan mutu. Seluruh institusi pendidikan tinggi harus mampu menyelenggarakan dan mengelola PDPT secara terintegrasi dan profesional di institusi masing-masing sebagai sumber informasi bagi lembaga akreditasi, pemerintah dan Stake holders.

Mengoptimalkan PDPT merupakan suatu keharusan agar pengelolaan sistem data institusi pendidikan tinggi dapat dipertanggung-jawabkan. PDPT sebagai salah satu instrument pelaksanaan penjaminan mutu diharapkan mampu merangkum semua hal-hal yang berkaitan dengan indikator kualitas akademik hingga menjadi suatu alat pengontrol tingkat kualitas dan kualifikasi pendidikan para tenaga pendidik, terciptanya tertib administrasi sehingga semua lulusan PTAI melalui proses yang sah terhindar mengeluarkan ijazah melalui proses yang tidak sah.

Oleh karena itu, pengelola Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) harus mampu mengelola pangkalan data tersebut secara serius dan profesional agar kelengkapan data yang berkaitan dengan kualitas akademik pendidikan tinggi dapat terkoordinir dengan baik. Sebagaimana yang diwajibkan dalam penyelenggaraan PDPT bahwa dosen harus memiliki Nomor Induk Dosen Nasional (NIDN), merupakan nomor identitas sebagai legitimasi bahwa seseorang adalah berstatus sebagai dosen tetap, baik PTN maupun PTS sesuai ketentuan dalam PP No. 37 Tahun 2009 tentang dosen.

Nomor Urut Pendidik Nasional (NUPN), dan data-data transaksi akademik dosen dan mahasiswa lainnya agar yang bersangkutan memiliki track record dalam aktivitas akademiknya sehingga dapat dipertanggung-jawabkan kualitasnya. Membuat laporan PDPT hendaknya tidak divisikan sebagai pengguguran kewajiban tetapi membangun kemajuan pendidikan tinggi secara nasional.

Namun demikian penulis sebagai operator merasa kesulitan ketika mengisi instrumen- instrumen tersebut umpamanya nilai semester belum masuk, NIDN belum lengkap,  mahasiswa cuti dan home base dosen

Jadi amanat pasal 56 ayat 2 UU No. 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi tentang Pangkalan Data Pendidikan Tinggi memiliki fungsi sebagai sumber informasi bagi lembaga akreditasi, pemerintah, dan masyarakat betul-betul sudah terealisasi dalam rangka  mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat.

Fungsi pendidikan dalam arti mikro (sempit) ialah membantu (secara sadar) perkembangan jasmani dan rohani peserta didik. Fungsi pendidikan secara makro (luas) ialah sebagai alat:

  1. Pengembangan pribadi,
  2. Pengembangan warganegara,
  3. Pengembangan kebudayaan, dan
  4. Pengembangan bangsa

Mengacu kepada  UU Sisdiknas ketentuan umum Pasal 1 ayat 1: Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara yang sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa sehingga menjadi sebuah bangsa yang berkualitas, berkarakter, beradab, bermartabat dan berbudaya di tengah pergaulan bangsa-bangsa di dunia.

Prof. Dr. Made Pidarta mengatakan, bahwa pendidik mempunyai dua arti, ialah arti yang luas dan yang sempit. Pendidik dalam arti yang luas adalah semua orang yang berkewajiban membina anak-anak. Sedangkan pendidik dalam arti sempit ialah orang-orang yang disiapkan dengan sengaja untuk menjadi guru dan dosen.[1]

Di era globalisasi sekarang ini masyarakat dan negara mulai menuntut orang-orang yang bukan hanya cerdas tapi juga kreatif yang penuh inisiatif untuk menciptakan ide-ide baru, penemuan-penemuan dan teknologi baru yang tidak kalah berdaya saing dengan negara-negara yang sudah maju. Untuk mencapai hal tersebut maka diperlukan sikap, pemikiran, dan perilaku kreatif yang dipupuk sejak dini agar siswa kelak tidak hanya menjadi konsumen pengetahuan, tetapi menciptakan pengetahuan baru, tidak hanya menjadi pencari pekerja, tetapi mampu menciptakan pekerjaan baru (wiraswasta). Betapa pentingnya pengembangan kreativitas dalam sistem pendidikan nasional. Hal tersebut ditekankan dalam UU SISDIKNAS No. 20 Tahun 2003 bab III pasal 4, sebagai berikut “Pendidikan diselenggarakan dengan memberi keteladanan membangun kemauan, dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran”.


[1] Made Pidarta, Landasan Kependidikan :  Stimulus Ilmu Pendidikan Bercorak Indonesia, Jakarta: Rineka Cipta, 2007, hlm. 276.

Artikel Umum

More Articles...

Page 5 of 14

5

Member Login