Publikasi Artikel

Artikel Umum

Ahmad Sanusi atau dikenal dengan sebutan Kiai Haji Ahmad Sanusi atau Ajengan Genteng (lahir 18 September 1889 di Desa Cantayan, Kecamatan Cikembar, Kabupaten Sukabumi - meninggal tahun 1950 di Sukabumi pada umur 61 tahun) adalah tokoh Sarekat Islam dan pendiri Al-Ittahadul Islamiyah (AII), sebuah organisasi di bidang pendidikan dan ekonomi.[2][3] Pada awal Pemerintahan Jepang, AII dibubarkan dan secara diam-diam ia mendirikan Persatuan Umat Islam Indonesia (PUII).[2][4] Ia juga pendiri Pondok Pesantren Syamsul Ulum, Sukabumi.[2] Selain itu, Kiai Sanusi juga pernah menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada tahun 1945.[2][5]. Baca lebih lanjut dalam link disini

Artikel Umum

Ditengah-tengah kondisi sosial-ekonomi dan sosial-budaya seperti yang telah digambarkan sebelumnya, di Sukabumi lahirlah seorang anak laki-laki yang kelak menjadi seorang pemimpin yang sangat disegani. Dia adalah Ahmad Sanusi.... baca selanjutnya dalam link disini

Artikel Umum

PERAN PELATIH PEMBINA PRAMUKA DALAM MENGHADAPI KESIAPAN GUGUSDEPAN MELAKSANAKAN EKSTRA KURIKULER WAJIB PENDIDIKAN KEPRAMUKAAN.

Oleh : Drs.H. Munandi Shaleh, S.IP, M.Si, MT

A. PENDAHULUAN

Semenjak lahirnya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2010 Tentang Gerakan Pramuka, maka terjadilah geliat perubahan yang mendasar terhadap kegiatan keramukaan. Gerakan Pramuka tidak hanya mendapat dukungan yuridis sebagai legal formal membangun eksistensi Gerakan Pramuka, akan tetapi mendapat pula dukungan finansial dan dukungan lainnya secara signifikan oleh pemerintah dan masyarakat, sehingga kegiatan kepramukaan mengalami perkembangan yang sangat pesat. Maka tidak heran dalam waktu singkat Gerakan Pramuka menjadi sebuah organisasi yang memiliki keanggotan yang paling besar dan memiliki tingkat keberhasilan yang realistis dalam menciptakan kader bangsa dengan memiliki kerakteristik (kepribadian) keindonesiaan, yang nantinya diharapkan para kader bangsa ini menjadi pemimpin bangsa yang memiliki kepribadian keindonesiaan dan membawa Indonesia menjadi sebuah negara yang maju dan berperadaban. Baca lebih lanjut pada link disini

Artikel Umum

Pendidikan Karakter dalam Perspektif Islam

Oleh : Jasmansyah, M.Pd

jasman-Potret pendidikan Indonesia dilihat dari pendekatan moral sosial akhir-akhir ini cukup mengkhawatirkan. Berbagai fenomena sosial negatif banyak bermunculan di berbagai tempat. Tawuran antar pelajar, bentrokan antar pendukung sepak bola, kekerasan dalam menyelesaikan masalah, pemaksaan kebijakan terjadi hampir pada setiap level institusi, manipulasi informasi menjadi hal yang lumrah, penekanan dan pemaksaan kehendak satu kelompok terhadap kelompok lain dianggap biasa. Hukum begitu teliti pada kesalahan, namun buta dan tak berdaya pada keadilan.

Sepertinya karakter masyarakat Indonesia yang dikenal santun dalam berprilaku, berbudaya musyawarah mufakat dalam menyelesaikan masalah, local wisdom yang kaya dengan pluralitas, toleransi dan gotong royong yang sangat dijunjung tinggi, telah berubah wujud menjadi hegemoni kelompok-kelompok baru yang saling mengalahkan satu sama lain. Budaya Indonesia yang ketimuran (eastern) dan sangat menjunjung nilai-nilai budaya sudah mulai terkikis dan tergerus arus derasnya budaya barat (western). Fenomena tersebut tidak hanya terjadi di daerah perkotaan, tapi sudah menjalar dan menggerogoti kehidupan masyarakat pedesaan yang awalnya sangat akrab dengan nilai-nilai luhur yang diwariskan para pendahulunya.

Bercermin pada realita tersebut sudah sepantasnya kita bertanya secara kritis, inikah hasil dari proses pendidikan yang seharusnya menjadi alat transformasi nilai-nilai luhur peradaban? Atau pendidikan hanya sebagai alat yang secara mekanik menghasilkan peserta didik yang cerdas dan menguasai materi pelajaran untuk sekedar lulus ujian nasional dan masuk Perguruan Tinggi pavorit?. Jika ini yang terjadi, maka sesungguhnya penerapan pendidikan di Indonesia sudah keluar dari rel yang sesungguhnya dilewati. Karena pendidikan sejatinya adalah menanamkan nilai-nilai karakter sebagai bekal dalam kehidupan.

Pendidikan karakter sejatinya adalah penanaman values kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, sikap, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut. Dalam arti yang lebih luas pendidikan karakter dimaknai sebagai segala sesuatu yang dilakukan guru, yang mampu mempengaruhi karakter peserta didik. Hal ini mencakup keteladanan prilaku guru, cara guru bicara atau menyampaikan meteri, toleransi, dan berbagai hal terkait lainnya.

Islam sebagai inti nilai etika diejawantahkan dalam enam bentuk sumber prilaku yakni keiman, kejujuran, kepedulian, tanggung jawab, keberanian, dan kewarganegaraan. Keenam core ethical values ini diinternalisasi melalui proses pendidikan karakter dengan cara pengajaran, pembiasaan, peneladanan, pemotivasian, dan penegakan aturan dalam kesehariannya.

Karakter dibangun secara konseptual dengan menggunakan pilar moral. Karakter individual maupun komunal dibangun melalui dua aspek yang saling terkait yakni faktor otonom dan heteronom. Otonomi merupakan usaha dalam proses pendidikan karakter yang diimplementasikan melalui pengajaran, pembiasaan, peneladanan, pemotivasian, dan penegakan aturan. Sementara heteronomi merupakan usaha yang dilakukan oleh lingkungan (luar pendidikan) yakni adanya keadilan sosial ekonomi, penegakan hukum, keteladanan pemimpin, serta keteraturan norma-norma sosial. Untuk membentuk karakter bangsa dibutuhkan sinergi yang kuat antara faktor otonomi dengan faktor heteronom. Jika salah satunya rapuh atau bahkan saling bertentangan, maka karakter bangsa tidak akan terbentuk secara efektif.

)*Kandidat Doktor Ilmu Pendidikan Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Guru SMAN 1 Cibadak & Ketua Jurusan PAI, STAI Syamsul Ulum Sukabumi

Artikel Umum

More Articles...

Page 4 of 14

4

Member Login