Publikasi Artikel

Artikel Umum

MENGENAL SELINTAS :
TUAN GURU BAJANG (TGB) DR.K.H. MUHAMMAD ZAINUL MAJDI, MA
(SEBUAH CATATAN KECIL PERJALANAN DALAM MENGHADIRI HAULTAH NWDI KE-82 DAN HAUL MAULANA SYEIKH TUAN GURU K.H. JAENUDDIN ABDUL MAJID KE-20)
Oleh :
Drs.H. Munandi Shaleh, S.IP, M.Si
(Dosen Sejarah Peradaban Islam STAI Syamsul’Ulum Gunungpuyuh Sukabumi)

Pada hari Rabu, tanggal 26 Juli 2017 sekitar pukul 12.00 WIB siang, saya mendapat telephon mendadak via Hp dari teman saya yang sama-sama mengajar di STAI Syamsul’Ulum Gunungpuyuh Sukabumi yakni Bapak Jasmansyah, M.Pd, Ia menawarkan kepada saya untuk ikut serta bersama rombongan pengurus Nahdlatul Wathan Diniyyah Islamiyyah (NWDI) Wilayah Jawa Barat dan rombongan santri Pondok Pesantren Modern Nurul Haromain Cigombong Bogor Jawa Barat, untuk bersama-sama menghadiri kegiatan Hari Ulang Tahun (HAULTAH) Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI) yang ke-82 sekaligus perayaan Haul Maulana Syaikh Tuan Guru K.H. Zaenuddin Abdul Majid yang ke-20 bertempat di Pancor Selong Lombok Timur Nusa Tenggara Barat. Selanjutnya baca link disini

Artikel Umum

MENGENAL SELINTAS :
TUAN GURU BAJANG (TGB) DR.K.H. MUHAMMAD ZAINUL MAJDI, MA
(SEBUAH CATATAN KECIL PERJALANAN DALAM MENGHADIRI HAULTAH NWDI KE-82 DAN HAUL MAULANA SYEIKH TUAN GURU K.H. JAENUDDIN ABDUL MAJID KE-20)
Oleh :
Drs.H. Munandi Shaleh, S.IP, M.Si
(Dosen Sejarah Peradaban Islam STAI Syamsul’Ulum Gunungpuyuh Sukabumi)

Pada hari Rabu, tanggal 26 Juli 2017 sekitar pukul 12.00 WIB siang, saya mendapat telephon mendadak via Hp dari teman saya yang sama-sama mengajar di STAI Syamsul’Ulum Gunungpuyuh Sukabumi yakni Bapak Jasmansyah, M.Pd, Ia menawarkan kepada saya untuk ikut serta bersama rombongan pengurus Nahdlatul Wathan Diniyyah Islamiyyah (NWDI) Wilayah Jawa Barat dan rombongan santri Pondok Pesantren Modern Nurul Haromain Cigombong Bogor Jawa Barat, untuk bersama-sama menghadiri kegiatan Hari Ulang Tahun (HAULTAH) Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI) yang ke-82 sekaligus perayaan Haul Maulana Syaikh Tuan Guru K.H. Zaenuddin Abdul Majid yang ke-20 bertempat di Pancor Selong Lombok Timur Nusa Tenggara Barat. Selanjutnya baca link disini

Artikel Umum

Mengenal Sosok KH. Ahmad Sanusi, "Guru dari Para Ulama Besar Jawa Barat"

22 Maret 2017   21:39 Diperbarui: 22 Maret 2017   22:01 559 0 0

Mengenal Sosok KH. Ahmad Sanusi,
fahmialinh.wordpress.com

Mengenal Sosok KH. Ahmad Sanusi (Sukabumi) Sang Pemikir dan Pejuang (Guru dari Para Ulama Besar Jawa Barat)

Oleh : Tatang Hidayat

Beliau adalah sosok Kyai jenius yang pernah dimiliki bangsa Indonesia, beliau menjadi rujukan penting perkembangan keilmuan Islam di Jawa Barat karena telah melahirkan Kyai-kyai besar yang berpengaruh di tanah jawa ini. Beliau merupakan sang pemikir dan pejuang yang gigih menentang kekuasaan Belanda hingga ia bersama sejumlah Kyai lainnya seperti KH. Wahid Hasyim, Moch. Yamin dan Kyai lainnya yang terlibat dalam merumuskan berdirinya negeri ini Beliau patut mendapat penghargaan yang selayaknya, apalagi keilmuan KH. Ahmad Sanusi adalah rujukan bagi ulama besar di Jawa Barat seperti KH. Zainal Musthafa, KH. Choer Affandy, KH. Abdullan bin Nuh dan sederet nama besar Kyai lainnya pernah berguru pada KH. Ahmad Sanusi. Baca selanjutnya link disini

Artikel Umum

Kemiskinan dan Zakat

Image result for h.a. suganda

Oleh Drs.H.A Suganda, M.Ag
Ketua DKM Masjid Nurul Ulum Ponpes Syamsul Ulum

Zakat, infaq, dan shadaqoh (ZIZ), ketiga istilah ini sangat akrab di telinga kita seolah sudah menjadi satu kesatuan. Tetapi sesungguhnya masing-masing istilah itu punya hakikat dan pengertian sendiri-sendiri yang cukup spesifik, sehingga kita perlu menyebutnya satu persatu. Karena bukan sinonim, bahkan dari segi hukum juga sangat berbeda.

Zakat merupakan salah satu pesan Islam yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan dasar umat manusia, yakni terciptanya kesejahteraan ekonomi yang seimbang, tidak menimbulkan kecemburuan yang makin tajam antara kaum kaya dan miskin. Zakatlah pesan Islam yang pernah mendapat prioritas pembinaan umat ketika Nabi Muhammad SAW pertama kali membina masyarakat di kota Madinah.

Zakat juga adalah ajaran Islam yang memiliki dimensi ganda, yaitu spiritual dan material. Selain itu, zakat pun berdimensi sosial yang berarti bahwa pemenuhan kebutuhan material, bukan hanya berorientasi pada situasi individual tetapi juga sosial. Prinsip zakat menjadi alternatif dalam membangun kekuatan ekonomi umat dan sekaligus menciptakan kesejahteraan dan iklim kebersamaan ukhuwah Islamiyah. Akan tetapi prakteknya, membina kesejahteraan umat melalui zakat tidak semudah seperti kita membalikkan tangan. Sebab, kita masih sering mendapatkan kesulitan ketika memilih zakat sebagai alternatif mensejahterakan umat.

Zakat adalah shadaqoh yang hukumnya wajib, maka para ulama sepakat untuk menyebutnya sebagai zakat. Pendayaan zakat dapat diperuntukkan bagi usaha produktif, apabila kebutuhan mustahiq delapan asnaf sudah terpenuhi dan terdapat kelebihan. Penyaluran zakat dalam bentuk ini adalah bersifat bantuan pemberdayaan ekonomi umat melalui melalui program atau kegiatan ekonomi yang berkesinambungan.

Kalau infaq bermakna mengeluarkan atau membelanjakan harta. Berbeda dengan yang sering kita pahami dengan istilah infaq yang selalu dikaitkan dengan sejenis sumbangan atau donasi. Istilah infaq dalam bahasa Arab sesungsuhnya masih sangat umum. Intinya, hanya mengeluarkan harta atau membelanjakannya. Apakah untuk kebaikan, donasi, atau sesuatu yang bersifat untuk diri sendiri, atau bahkan keinginan dan kebutuhan yang bersifat konsumtif. Semua masuk dalam istilah infaq. Sedangkan shadaqoh punya kemiripan dengan istilah infaq di atas, tetapi lebih spesifik. Shadaqoh adalah membelanjakan harta atau mengeluarkan dana dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ar-Raghib al-Asfahani mendefinisikan shadaqoh adalah, harta yang dikeluarkan oleh seseorang dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Jadi ada perbedaan antara infaq dan shadaqoh dalam niat dan tujuan, dimana shadaqoh itu sudah jelas dan spesifik bahwa harta itu dikeluarkan dalam rangka ibadah kepada Allah SWT. Sedangkan infaq, ada yang sifatnya ibadah (mendekatkan diri kepada Allah) dan juga yang bukan ibadah. Maka istilah shadaqoh tidak bisa dipakai untuk membayar maksiat, atau memberi suap kepada pejabat. Sebab, shdaqoh hanya untuk kepentingan ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT saja. (*)

Artikel Umum

More Articles...

Page 1 of 14

Start
Prev
1

Member Login