Publikasi Artikel Problematika Ulama di Era Global

Problematika Ulama di Era Global

Oleh H. Syafruddin Amir*

H. Syafruddin Amir Dosen STAI Syamsul ‘Ulum Gunungpuyuh Sukabumi.

Ulama adalah pewaris para nabi, pengemban risalah yang membebaskan manusia dari kesesatan menuju hidup makmur, bahagia, dan sejahterabaik di dunia maupun di akhirat. Terlebih ulama dituntut untuk mampu mengayomi dan mengarahkan umat dalam urusan duniawi dengan cara mentransformasikannya nilai-nilai ajaran Islam dalam praktik kehidupan termasuk di era global saat ini.

Ketika berbicara globalisasi maka yang terlintas dalam pemikiran kita adalah borderless world (dunia tanpa batas). Batas-batas geografis suatu negara menjadi kabur. Semua negara bebas melakukan kerjasama dengan negara mana pun dan batas negara bukan penghambat untuk melakukannya. Cepatnya pertukaran arus informasi dan perpindahan barang dan jasa dari suatu tempat ke tempat lain, dari satu negara ke negara lain telah berdampak pada cara pandang terhadap nilai dan sikap hidup yang praktis, instan, pragmatis, materialistis, konsumeristisdan hedonistis. Secara tidak sadar, hal tersebut lambat laun mengikis moralitas yang berujung pada praktik-praktik kehidupan yang tidak sehat seperti manipulasi, korupsi, menghasut, dan lain sebagainya, bahkan mengarah pada kriminalitas dan kekerasan kemanusiaan.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) perlu mengagendakan konsep tentang pembinaan generasi muda yang selama ini terabaikan. Sedangkan pemuda ini memiliki jumlah 2/3 dari jumlah penduduk Kota Sukabumi, sebab dikalangan anak muda timbul kegairahan keagamaan seperti yang disenyalir oleh Syekh Yusuf Qardhawi telah mewarnai sikap anak muda yang berlebihan (Al-Ghuluww) dan ekstriminitas (Al-Fatharuf)seperti tertarik kepada ISIS, Al-Qaida dan lain-lain sehingga lahir stigma yang melekat seolah-olah Islam itu identik dengan kekerasan, terorisme, fundamentalisme, radikalisme dan sebagainya. Kalau ini tidak mendapat perhatian ulama seakan membenarkan tuduhan beberapa pemikiran barat yang berpandangan bahwa Islam itu sebagai ancaman pasca runtuhnya Uni Soviet seperti kegalauan Samuel Huntington dengan tesisnya the clash of civilization.

Agenda berikutnya adalah menciptakan sinergis antara PEMDA dan MUI dalam membenahi keberhasilan pembangunan yang tidak saja berorientasi kepada pembangunan fisik tetapi juga lebih meningkatkan pembinaan mental spiritual, sehingga substansi nilai-nilai keagamaan yang bersumber kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dapat diwujudkan sehingga mampu melahirkan pribadi-pribadi warga Kota Sukabumi yang unggul, transformatif, menjadi komunitas warga kota yang menciptakan tatanan peradaban yang indah sesuai visi Pemerintah Kota Sukabumi “Rahmatan Lil ‘Alamin”.

Konsolidasi para ulama dan cerdik cendekia dalam membahas permasalahan umat perlu lebih diintensifkan, bukan hanya masalah furu’iyahtetapi masalah yang secara langsung berhubungan dengan kehidupan dasar. Bahkan pelibatan dengan berbagai pemangku kepentingan yang ada, akan menjadi pengayaan dalam meringakan beban masalah dan memudahkan langkah penyelesaian keummatan.

Selain itu, penting juga melakukan reformulasi gerakan dakwah yang sudah berjalan. Artinya, penguatan kembali konsep dakwah yang relevan, metode yang tepat, intensitas yang lebih tinggi dan sasaran/target yang hendak dicapai MUI periode berikutnya, terutama memperbanyak kaderisasi ulama dikalangan anak muda dalam mengatasi problematika di era global.(*)

Add comment


Security code
Refresh

Artikel Umum

Member Login